Seharusnya rakyat ini khususnya umat Islam diajak bertadarus bersama walau dari rumah masing-masing. Ini malah menghimbau rakyatnya menonton mereka bernyanyi di konser virtual sebagai media pencitraan dan guna mengkelabui pandangan luar negeri bahwa rejim Jokowi kompak bukan one man show. Demikian dikatakan Hendra Gunawan selaku aktivis 98.
Negara Indonesia kami bebaskan dari tirani Suharto yang memimpin negara ini lebih dari 30 tahun, bukan untuk menghancurkan Kebhinekaan Tunggal Ika dan mengangkangi nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila bahkan Rejim ini dinilainya secara sengaja telah melanggar ketentuan UUD 1945.
Konser virtual yang diselenggarakan oleh Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP) bekerjasama dengan Majelis Permusyawatan Rakyat (MPR) Republik Indonesia dan didukung oleh Gugus Tugas Covid 19 RI adalah penghinaan kepada agama Islam sebagai agama mayoritas dinegara Pancasila ini.
"Jangan hancurkan jiwa saling menghormati antar umat beragama dibumi pertiwi ini"kata Hendra
Pada masa 22 tahun yang lalu kami berjuang menumbangkan kediktatoran rezim Suharto bersama seluruh komponen bangsa, tidak ada rasa saling mencurigai apalagi saling mencaci antara agama yang satu dengan agama yang lainnya. Dan setiap aksi aktivis 98 selalu menjaga aksinya agar jangan sampai ada timbul isu SARA, karena perjuangan rakyat pada masa itu adalah murni untuk menegakkan Demokrasi dinegri yang kami cintai ini.
Nyatanya, saat ini rejim kapitalis yang diketuai oleh Joko Widodo bersama koleganya telah menghina umat Islam yang akan beribadah sholat tarawih, mereka dihimbau untuk menghadiri konser virtual yang diselenggarakan BPIB cs. Sungguh biadab rejim ini.ungkap Hendra
Indonesia berduka corona belum pulih juga, rakyat banyak yang di PHK, lebaran sebentar lagi akan tiba. Rejim ini dengan bangga menyelenggarakan konser menuju neraka.
Benar kata Mahfud MD rakyat sudah pada stres termasuk pemerintahnya. Terlebih lagi orang yang kami wakili duduk di Senayan saat ini sibuk mengejar target dan setoran. Rapat Dengar Pendapat atau Rapat Paripurna guna membahas peraturan dan perundang-undangan menjadi undang-undang adalah hal yang tidak bersifat mendesak dan dinilai hanya menghamburkan uang Negara saja.
Negara ini sudah diambang kehancuran dan kematian menanti setiap saat disebabkan wabah virus corona yang biadab itu. Akan tetapi yang lebih biadab lagi adalah rejim ini dengan menyelenggarakan konser virtual ditengah bencana.
Akal sehat tidak dipergunakan lagi oleh pemerintahan ini. Maka tunggulah bom waktu rejim Jokowi akan jatuh ditengah Corona.pungkasnya

#REZIMLAKNATULLOHH
BalasHapus